Senin, 23 Agustus 2010

K.H. Rahmat Abdullah; Syekh Tarbiyah, Berdakwah Menembus Ruang dan Waktu

Oleh : Muhammad Syarief

Reformasi yang digulirkan pada tahun 1998 telah menjadi cahaya terang bagi umat Islam Indonesia. Azas tunggal yang selama beberapa dekade dijunjung tinggi lambat laun berhasil ditumbangkan, seiring bertambah cerahnya masa depan dakwah di tanah air. Hal ini takkan pernah terjadi tanpa adanya kerja keras yang melahirkan bibit-bibit unggulan. Satu hal yang menjadi catatan: bibit itu takkan pernah lahir tanpa adanya sosok seorang dai, yang tak mengenal letih dalam menyuarakan kebenaran. Di antara sosok itu adalah Ustad Rahmat Abdullah, sang juru dakwah yang pantang menyerah demi tegaknya Islam. Beliau lebih dikenal di kalangan aktivis dakwah sebagai syekh tarbiyah.
Beliau lahir di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada 3 Juli 1953. Putra kedua dari empat bersaudara dari pasangan Abdullah dan Siti Rahmah. Sebagai anak Betawi, beliau lebih bangga apabila tanah kelahirannya disebut dengan Jayakarta, nama lain kota Jakarta yang diberikan oleh Pangeran Fatahillah.
Belum puas menikmati kasih sayang sang ayah, beliau yatim saat usianya genap 11 tahun. Beliau hanya diwarisi percetakan sablon ayahnya, modal sekaligus sumber usaha untuk menyambung hidup keluarga. Namun Rahmat bukanlah remaja yang cengeng. Kesedihan yang menghampirinya tak menyurutkan semangat untuk mendalami ilmu agama. Waktu luang setiap pagi beliau manfaatkan untuk mengaji (belajar membaca Alquran, baca-tulis Arab, kajian akidah, akhlak, dan fikih) yang dilanjutkan dengan sekolah dasar di siang hari.
Di era 60-an, Rahmat remaja termasuk aktivis demonstran anggota KAPPI & KAMI, yang lebih dikenal dengan angkatan 66. Padahal waktu itu beliau masih duduk di bangku SMP.
Melihat kurangnya perhatian sekolah terhadap masalah agama, beliau kemudian pindah sekolah ke Ma’had Asy-Syafi’iyah di Bali, Matraman, Jakarta, yang didirikan oleh K.H. Abdullah Syafi’i. Di sini, kecerdasan Rahmat teruji. Setelah diterima di bangku kelas tiga MI, beliau kemudian ‘meloncat’ ke kelas lima. Saat itulah kali pertama beliau mengenal ilmu nahwu yang menjadi pelajaran favoritnya. Dengan ilmu itu, beliau akhirnya dapat memahami siaran radio berbahasa Arab “Shout Indonesia” yang disiarkan RRI saat itu. Selepas MI, Rahmat remaja melanjutkan studinya ke jenjang MTs di Ma’had yang sama. Di sini, beliau mulai belajar ushûlul fiqh, mushthalahul hadîts, psikologi, dan ilmu pendidikan. Namun, pelajaran yang beliau gemari adalah talaqqî, yang dibimbing langsung oleh K.H. Abdullah Syafi’i; sosok kiai karismatik yang memberikan banyak inspirasi. Pada saat itu juga, Rahmat muda pun mulai merintis dakwah, berkhidmah kepada umat dengan mengajar di Ma’had Asy-Syafi’iyah dan Darul Muqorrobin, Karet, Kuningan. Hal ini beliau jalani selama bertahun-tahun, berjalan kaki dari Bali Matraman ke Karet Kuningan. Tak jarang untuk memberikan les privat beliau pun harus melewati lorong-lorong Jakarta hingga larut malam. Namun keikhlasan senantiasa menyelimuti beliau, karena semangat dakwah sudah terpatri dalam dirinya. Rahmat seorang santri yang cerdas, bersemangat baja, dan pantang menyerah, sehingga wajar kalau beliau kemudian dijadikan murid kesayangan K.H. Abdullah Syafi’i. Hingga pada tahun 1980, beliau bersama empat rekannya yang lain, sempat akan diberangkatkan ke Kairo untuk menempuh studi di Universitas Al-Azhar. Namun sayang, kesempatan itu gagal, karena ada ‘fitnah’ dari kalangan internal. Namun semangat Rahmat untuk belajar sedikit pun tak mengendur. Sejak beliau diperkenalkan K.H. Abdullah Syafi’i dengan seorang syekh dari Mesir, mulalilah beliau tertarik dengan pemikiran tokoh-tokoh Islam. Hasan Al-Banna, Sayyid Qutub, dan tokoh nasional seperti H.O.S. Cokroaminoto dan Muhammad Natsir, merupakah tokoh-tokoh Islam yang beliau kagumi. Dalam waktu singkat beliau melahap buku-buku mereka dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya. Beliau pun sempat berdiskusi dan berguru dengan tokoh nasional Muhammad Natsir, Mohammad Roem, dan Syafrudin Prawiranegara. Beliau pun mengaku mengadopsi metode orasi dari orator ternama Isa Ansari dan Buya Hamka, serta sang guru K.H. Abdullah Syafi’i.
Kekaguman beliau kepada tokoh-tokoh mujahid itulah yang kemudian menjadikannya dai yang mempunyai keahlian luar biasa. Sebagian muridnya mengatakan beliau adalah tokoh yang unik, karena pemikirannya yang tidak hanya tertuju kepada skrip kitab-kitab klasik, tetapi juga terbuka dengan alur pemikiran kotemporer. Maka di sela-sela ceramahnya, kita pun menemukan perpaduan pemikiran klasik dan modern. Tak jarang kritikan tajam pun ia layangkan ke pemikiran kiri seperti Karl Marx.
Keseriusan Rahmat dalam menggeluti dunia dakwah membuatnya lupa kalau usianya sudah menginjak kepala tiga. Akhirnya, di usianya yang ke 32, Rahmat mengakhiri masa lajangnya, dengan menikahi Sumarni, adik kelasnya ketika masih sekolah di Ma’had dulu. Pernikahan pun dilangsungkan pada tanggal 15 Ramadan 1405 H. (1984). Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai tujuh orang anak.
Sekalipun sudah berkeluarga, bukan halangan bagi Rahmat untuk terus berkiprah dalam dunia dakwah. Bersama Abu Ridho, Hilmi Aminudin, dan beberapa tokoh pemuda Islam pada saat itu, mereka tergabung dalam Harakah Islamiyah di era 80-an; halaqah dakwah yang terinspirasi dari pergerakan Al-Ikhwan Al-Muslimun yang didirikan Hasan Al-Banna. Inspirasi dakwah Hasan Al-Banna sebenarnya sudah lama menjadi acuan Rahmat Abdullah. Gayung pun bersambut. Beliau bertemu dengan rekan-rekannya yang seide dan sepemikiran. Bersama mereka, beliau berjuang melalui jalur pendidikan, kaderisasi, dan pengajian. Di wadah ini, Rahmat juga merintis sebuah majalah Islam yang banyak diminati pemuda Islam pada saat itu. Sayang, rezim orde baru yang berkuasa memaksa mereka untuk menutup segala aktivitas dakwahnya. Namun, hal itu tak menyurutkan semangat Rahmat untuk membuka lembaran baru di dalam dunia dakwah. Setelah lama berpetualang di dunia dakwah, bersama muridnya pada tahun 1993, Rahmat mendirikan Islamic Center Iqra’; lembaga Islam yang bergerak dalam pengembangan dunia pendidikan dan sosial, di Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. Sejak saat itu kesibukannya bertambah padat, mengkaji kitab klasik dan juga kontemporer. Sekalipun demikian, beliau tidak lupa untuk terus mengembangkan potensi diri. Membaca, mengkaji Alquran dan tafsir, hadis beserta syarah terus beliau tekuni.
Pasca runtuhnya rezim orde baru, beliau terjun dalam dunia politik. Mungkin tak terbersit sedikit pun di benaknya untuk berkecimpung di dunia itu. Namun untuk kelangsungan dakwah, tugas itu pun akhirnya diemban. Pada tahun 1999, beliau diamanahi sebagai Ketua Bidang Kaderisasi DPP Partai Keadilan—partai yang didirikannya bersama dengan rekan-rekan seperjuangannya, setelah lebih sepuluh tahun dirintis bersama, yang kemudian menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Kemudian beliau beralih menjadi Ketua Majelis Syuro sekaligus Ketua Majelis Pertimbangan Partai Keadilan Sejahtera.
Pada tahun 2004, karir politiknya kembali melejit. Beliau terpilih sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Bandung, Jawa Barat. Dan pada pencalonan beliaulah pertama kalinya Bandung dimenangkan oleh partai Islam, sejak awal pemilu tahun 1955.
Dai sekaligus budayawan. Itulah Rahmat Abdullah. Perjalanan hidupnya dalam menyelami lautan dakwah banyak beliau rangkai dalam untaian bait-bait syair, puisi, serta artikel-artikel kecil. Di kala muda, beliau kerap berlatih teater, bersama guru dan teman-teman seperjuangannya. Kepedulian beliau terhadap budaya memang tak boleh dipandang sebelah mata. Beliau mempunyai sumbangsih yang besar dalam proses islamisasi budaya (dakwah kultural) di tanah air. Dengan sahabat seperjuangannya, Abu Ridho (mantan wakil ketua MPP PK-Sejahtera), beliau memberikan warna baru dalam dinamika seni dan budaya Indonesia, tapi beliau tidak ingin disebut sebagai seorang seniman, sekalipun kemampuannya dalam hal seni tak diragukan.
Dai, demonstran, budayawan, dan filosof ini akhirnya menduduki kursi ‘empuk’ DPR di komisi III. Bersuara lantang, kritis namun tetap sopan, itulah kesan yang didapat dari rekan-rekannya di Parlemen. Amanat di partai pun dengan penuh semangat beliau emban. Hingga di penghujung hayatnya, beliau diamanahkan sebagai Ketua Badan Penegak Organisasi Partai Keadilan Sejahtera.
Ada yang datang dan ada yang pergi, itulah sunatullah. Selepas menyempurnakan wudlu untuk menunaikan salat Maghrib, beliau dipanggil menghadap Sang Khalik, Selasa, 14 Juni 2005. Beliau wafat pada usia 52 tahun. Umur yang tergolong muda untuk seorang politisi. Tidak seimbang memang dengan rambut kepala dan jenggotnya yang sudah memutih. Mujahid dari kampung Betawi ini wafat dengan meninggalkan istri dan tujuh orang anaknya.
Kota Jakarta pun seakan menangis, mengucurkan hujan deras mengiringi kepergian beliau. Puluhan ribu muridnya tanpa kuasa menahan haru mengantarkan jenazahnya ke persemayaman terakhir. Syekh tarbiyah itu telah pergi, namun semangat dakwah yang diwariskan kepada murid-muridnya takkan memudar. Selamat jalan Ustad Rahmat…. Perjuangan yang telah lama engkau rintis ini, akan terus kami lanjutkan. (Sinai Mesir)

Kematian Hati Sang Murabbi: K.H. Rahmat ‘Abdullah

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.

Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa,tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri. Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka”, ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidak-sesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang.

Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?

Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.

Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?

Selasa, 20 Juli 2010

Gak protes kok menghujat

Meja berkaki empat ditemani sang kursi berkaki empat pula entah ini kebetulan atau tidak yang jelas ini adalah suatu keajaiban. ide ini mulai terkoyak kedalam rona rona kata yang tak jelas ingin dibawa kemana. Di sebuah kota yang dikatakan salah satu kota terbaik di indonesia, entah mengapa banyak2 yang berkata seperti itu, mungkin salah satu alasan yang membuat saya percaya adalah ketika pertadingan piala indonesia yang waktu itu saya hadiri dan akhirnya berkhir dengan hasil yang baik untuk semua. Di awal judul saya memberikan judul yang tidak ada dalam kamus bahasa indonesia sekali pun tidak memenuhi unsur apa pun itu entah kamu percaya atau tidak. Mempercayai guru bahasa indonesia pun seperti berjalan tanpa arah pandang. Bahasa indonesia hanya bisa ditemukan di teori karena pada praktek sehari harinya pun tidak akan kamu temukan. Kata kata yang aneh tadi sudah mengawali dilema kalimat yang tidak jelas ini. Ketika berada di kota apel saya mendapatkan hal hal yang aneh mulai dari wacana masuk kuliah dan pengumuman resmi blok selanjutnya entah kenapa ada hal yang menarik yang saya analisa dari berbagai kejadian tersebut. Di dalam Facetwitt, ya saya mengatakan seperti itu karena infomasi yang akurat yang berasal dalam hati pribadi yang terdokumentasi itu pantas dijadikan bahan pertimbangan dalam membuat keputusan. Banyak sekali yang memprotes ketidaknyaman terhadap berbagai kebijakan yang telah dibuat orang para para pejabat yang terkait. Perlu disadari pejabat membuat wacana dan keputusan itu untuk kebaikan bersama. Aneh dirasa jika kita protes hanya sebatas pada wacana wacana tanpa memanfaatkan fasiltas yang telah tuhan berikan kepada kita yang saya rasa penuh dengan kemudahan bisa saya berikan contoh Inbox (1) Pak Komting Kok ada kebijakan seperti , kok aneh yah???apa tindakan anda??. Aneh hal itu tidak akan terjadi karena sebuah bentuk karakter untuk mejadikan diri kita "selalu" untung itu dibentuk dengan sebuah proses. Sekali lagi jangan cuma menghujat kalau mau protes yah disampaiakan. akhirnya sepotong tulisan aneh ini berhenti sampai disini lain kali akan saya lanjutkan yowww.

Rabu, 07 Juli 2010

Anak saya di kampus universitas negeri

Sambil menunggu bis kampus datang, seorang mahasiswa Universitas Indonesia, iseng-iseng berbincang dengan seorang pengemis tua yang sejak lama selalu nongkrong di halte bis UI.
“Sudah lama ngemis di sini, Pak?”
“Ya … lebih kurang sudah 10 tahun, Nak.”
“Wah lama juga ya, biasanya dapat berapa sehari, Pak?”
“Paling sedikit Rp 30.000, kadang bisa 50.000, kalau jumatan bisa dapat 100.000."
"Lumayan juga ya Pak!"
“Ya lumayan, buat kasih makan keluarga dan membesarkan anak-anak."
"Anak-anak sudah besar ya Pak?"
"Anak saya sudah besar semua, satu di UNJ Rawamangun, satu di IPB Bogor, yang paling tua di ITB Bandung. Semuanya di universitas negeri."
Mahasiswa itu begitu salut dengan sang pengemis, awalnya ia anggap remeh pengemis tua ini.
“Wah, hebat sekali ya, Bapak. Semua anaknya kuliah di universitas negeri"
“Oh ndak gitu, Nak. Anak saya semuanya mengemis, sama seperti saya. Memang keluarga kita pengalamannya mengemis di universitas negeri!"
Gubrak!!!!?????

Humor dan hikmah
Tahukah Anda? Di India, keluarga pengemis kadang sengaja mencacatkan anaknya agar bisa mendapat penghasilan lebih dari mengemis, karena pengemis cacat mendapat uang lebih banyak.
Kenapa ini terjadi?
Cita-cita rendah menular, pesimisme juga menular dan yang lebih berbahaya jika ini menular dari orang tua ke anaknya.
Menjadi miskin bukan masalah, menjadi orang tua miskin juga bukan masalah sepanjang kita tidak mempunyai mental miskin.

Anak miskin dari keluarga miskin di yang miskinIndia.
Ayanya memberi nama Laksmi (dewa kekayaan) pada anaknya, menunjukkan sang ayah sudah punya mental untuk berubah, ia ingin anaknya kaya.
Lalu sang ayah pindah ke kota membawa Laksmi agar nasib mereka berubah, dan sang ayah mewanti-wanti Laksmi untuk bersungguh-suingguh belajar, karena ia tidak ingin Laksmi Mittal menjadi orang tertinggal.
Tahukan Anda menjadi apa Laksmi di masa depan?
Laksmi Mittal kini menjadi orang terkaya di Asia, terkaya di London melebih ratu Inggris dan masuk dalam 10 besar orang terkaya di dunia.
Kesimpulannya, seburuk-buruknya kemiskinan adalah ketika kita mempunyai mental miskin dan menerima kemiskinan sebagai takdir yang tidak bisa dirubah, bukan sebagai nasib yang bisa dirubah.

Jadi seberapa miskinnya kita, seberapa kecilnya penghasilan kita saat ini, seberapa susahnya hidup ini, sepanjang kita punya mental sukses, kita punya harapan besar.

Jumat, 07 Mei 2010

Tak Seharusnya Berhenti

Dikehingan pagi sayapun terbangun dari kematian hati dan jasad, terdengar sayup-sayup adzan subuh dan saya mulai melangkahkan kaki saya mengambil air kehidupan untuk menghilangkan segala kotoran kehidupan, dan saya menuju mesjid seperti biasanya. saya berangkat ke mesjid masih terfikikan bagai mana jalan keluar untuk menyelesaikan masalah organisasi saya, seketika saya tiba di mesjid dan menunaikan shalat shubuh. seusai shlat subuh saya langsung melakukan apa yang sudah saya rencanakan pada malam sebelumnya, karena dalam setiap kegiatan muslim yang baik harus merencankannya, secara detail. Dan waktu pun berlalu tanpa disadari menunjukan pukul 8 . Saya bersama teman merencanakan untuk membuat tepung dari tongkol jagung . Tepung Tongkol jagung tersebut merupakan bahan dasar dalam program kreatifitas mahasiswa. Saya menuju jalan sumatra, tampak dari luar tempat penggilingan atau biasa dikenal sebagai "selep" nampak kotor sebagaimana biasa tempat- tempat yang ada di indonesia. Saya beranikan untuk berbicara ditengah kebisingan deru mesin giling dan pemiliknya berkata tidak bisa, kemudian saya menuju pasar gebang kemudian tanjung dengan hasilnya yang sama. kemudian saya berfikir bahwa tak seharusnya kita berhenti dengan ini kita boleh berhenti untuk melakukan solusinya. Tetap SEMANGAT KARENA HIDUP ADALAH PROSES

Senin, 05 April 2010

Sempu Island

Pulau Sempu, sebuah pulau Indah berada di malang selatan. Pulau Sempu ditempuh selama kurang lebih satu jam dari base camp.