Selasa, 20 Juli 2010
Gak protes kok menghujat
Meja berkaki empat ditemani sang kursi berkaki empat pula entah ini kebetulan atau tidak yang jelas ini adalah suatu keajaiban. ide ini mulai terkoyak kedalam rona rona kata yang tak jelas ingin dibawa kemana. Di sebuah kota yang dikatakan salah satu kota terbaik di indonesia, entah mengapa banyak2 yang berkata seperti itu, mungkin salah satu alasan yang membuat saya percaya adalah ketika pertadingan piala indonesia yang waktu itu saya hadiri dan akhirnya berkhir dengan hasil yang baik untuk semua. Di awal judul saya memberikan judul yang tidak ada dalam kamus bahasa indonesia sekali pun tidak memenuhi unsur apa pun itu entah kamu percaya atau tidak. Mempercayai guru bahasa indonesia pun seperti berjalan tanpa arah pandang. Bahasa indonesia hanya bisa ditemukan di teori karena pada praktek sehari harinya pun tidak akan kamu temukan. Kata kata yang aneh tadi sudah mengawali dilema kalimat yang tidak jelas ini. Ketika berada di kota apel saya mendapatkan hal hal yang aneh mulai dari wacana masuk kuliah dan pengumuman resmi blok selanjutnya entah kenapa ada hal yang menarik yang saya analisa dari berbagai kejadian tersebut. Di dalam Facetwitt, ya saya mengatakan seperti itu karena infomasi yang akurat yang berasal dalam hati pribadi yang terdokumentasi itu pantas dijadikan bahan pertimbangan dalam membuat keputusan. Banyak sekali yang memprotes ketidaknyaman terhadap berbagai kebijakan yang telah dibuat orang para para pejabat yang terkait. Perlu disadari pejabat membuat wacana dan keputusan itu untuk kebaikan bersama. Aneh dirasa jika kita protes hanya sebatas pada wacana wacana tanpa memanfaatkan fasiltas yang telah tuhan berikan kepada kita yang saya rasa penuh dengan kemudahan bisa saya berikan contoh Inbox (1) Pak Komting Kok ada kebijakan seperti , kok aneh yah???apa tindakan anda??. Aneh hal itu tidak akan terjadi karena sebuah bentuk karakter untuk mejadikan diri kita "selalu" untung itu dibentuk dengan sebuah proses. Sekali lagi jangan cuma menghujat kalau mau protes yah disampaiakan. akhirnya sepotong tulisan aneh ini berhenti sampai disini lain kali akan saya lanjutkan yowww.
Rabu, 07 Juli 2010
Anak saya di kampus universitas negeri
Sambil menunggu bis kampus datang, seorang mahasiswa Universitas Indonesia, iseng-iseng berbincang dengan seorang pengemis tua yang sejak lama selalu nongkrong di halte bis UI.
“Sudah lama ngemis di sini, Pak?”
“Ya … lebih kurang sudah 10 tahun, Nak.”
“Wah lama juga ya, biasanya dapat berapa sehari, Pak?”
“Paling sedikit Rp 30.000, kadang bisa 50.000, kalau jumatan bisa dapat 100.000."
"Lumayan juga ya Pak!"
“Ya lumayan, buat kasih makan keluarga dan membesarkan anak-anak."
"Anak-anak sudah besar ya Pak?"
"Anak saya sudah besar semua, satu di UNJ Rawamangun, satu di IPB Bogor, yang paling tua di ITB Bandung. Semuanya di universitas negeri."
Mahasiswa itu begitu salut dengan sang pengemis, awalnya ia anggap remeh pengemis tua ini.
“Wah, hebat sekali ya, Bapak. Semua anaknya kuliah di universitas negeri"
“Oh ndak gitu, Nak. Anak saya semuanya mengemis, sama seperti saya. Memang keluarga kita pengalamannya mengemis di universitas negeri!"
Gubrak!!!!?????
Humor dan hikmah
Tahukah Anda? Di India, keluarga pengemis kadang sengaja mencacatkan anaknya agar bisa mendapat penghasilan lebih dari mengemis, karena pengemis cacat mendapat uang lebih banyak.
Kenapa ini terjadi?
Cita-cita rendah menular, pesimisme juga menular dan yang lebih berbahaya jika ini menular dari orang tua ke anaknya.
Menjadi miskin bukan masalah, menjadi orang tua miskin juga bukan masalah sepanjang kita tidak mempunyai mental miskin.
Anak miskin dari keluarga miskin di yang miskinIndia.
Ayanya memberi nama Laksmi (dewa kekayaan) pada anaknya, menunjukkan sang ayah sudah punya mental untuk berubah, ia ingin anaknya kaya.
Lalu sang ayah pindah ke kota membawa Laksmi agar nasib mereka berubah, dan sang ayah mewanti-wanti Laksmi untuk bersungguh-suingguh belajar, karena ia tidak ingin Laksmi Mittal menjadi orang tertinggal.
Tahukan Anda menjadi apa Laksmi di masa depan?
Laksmi Mittal kini menjadi orang terkaya di Asia, terkaya di London melebih ratu Inggris dan masuk dalam 10 besar orang terkaya di dunia.
Kesimpulannya, seburuk-buruknya kemiskinan adalah ketika kita mempunyai mental miskin dan menerima kemiskinan sebagai takdir yang tidak bisa dirubah, bukan sebagai nasib yang bisa dirubah.
Jadi seberapa miskinnya kita, seberapa kecilnya penghasilan kita saat ini, seberapa susahnya hidup ini, sepanjang kita punya mental sukses, kita punya harapan besar.
“Sudah lama ngemis di sini, Pak?”
“Ya … lebih kurang sudah 10 tahun, Nak.”
“Wah lama juga ya, biasanya dapat berapa sehari, Pak?”
“Paling sedikit Rp 30.000, kadang bisa 50.000, kalau jumatan bisa dapat 100.000."
"Lumayan juga ya Pak!"
“Ya lumayan, buat kasih makan keluarga dan membesarkan anak-anak."
"Anak-anak sudah besar ya Pak?"
"Anak saya sudah besar semua, satu di UNJ Rawamangun, satu di IPB Bogor, yang paling tua di ITB Bandung. Semuanya di universitas negeri."
Mahasiswa itu begitu salut dengan sang pengemis, awalnya ia anggap remeh pengemis tua ini.
“Wah, hebat sekali ya, Bapak. Semua anaknya kuliah di universitas negeri"
“Oh ndak gitu, Nak. Anak saya semuanya mengemis, sama seperti saya. Memang keluarga kita pengalamannya mengemis di universitas negeri!"
Gubrak!!!!?????
Humor dan hikmah
Tahukah Anda? Di India, keluarga pengemis kadang sengaja mencacatkan anaknya agar bisa mendapat penghasilan lebih dari mengemis, karena pengemis cacat mendapat uang lebih banyak.
Kenapa ini terjadi?
Cita-cita rendah menular, pesimisme juga menular dan yang lebih berbahaya jika ini menular dari orang tua ke anaknya.
Menjadi miskin bukan masalah, menjadi orang tua miskin juga bukan masalah sepanjang kita tidak mempunyai mental miskin.
Anak miskin dari keluarga miskin di yang miskinIndia.
Ayanya memberi nama Laksmi (dewa kekayaan) pada anaknya, menunjukkan sang ayah sudah punya mental untuk berubah, ia ingin anaknya kaya.
Lalu sang ayah pindah ke kota membawa Laksmi agar nasib mereka berubah, dan sang ayah mewanti-wanti Laksmi untuk bersungguh-suingguh belajar, karena ia tidak ingin Laksmi Mittal menjadi orang tertinggal.
Tahukan Anda menjadi apa Laksmi di masa depan?
Laksmi Mittal kini menjadi orang terkaya di Asia, terkaya di London melebih ratu Inggris dan masuk dalam 10 besar orang terkaya di dunia.
Kesimpulannya, seburuk-buruknya kemiskinan adalah ketika kita mempunyai mental miskin dan menerima kemiskinan sebagai takdir yang tidak bisa dirubah, bukan sebagai nasib yang bisa dirubah.
Jadi seberapa miskinnya kita, seberapa kecilnya penghasilan kita saat ini, seberapa susahnya hidup ini, sepanjang kita punya mental sukses, kita punya harapan besar.
Langganan:
Postingan (Atom)